Rabu, 10 November 2010

Diplomasi sebagai Kekuatan Nasional

Diplomasi sebagai Kekuatan Nasional

Azas politik Luar Negeri Indonesia, adalah “bebas dan aktif”. Bebas dalam hal ini berarti Indonesia mempunyai keluasaan untuk melakukan hubungan dengan fihak manapun tanpa melihat ideologi ataupun hal lain selama tujuan diplomasi untuk memperoleh keuntungan bagi keberhasilan dan membela kepentingan Nasional. Sementara aktif, dapat diartikan sebagai peran yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk menjaga dan mempertahankan kepentingan Nasional.

Dalam pembukaan Undang-undang dasar 1945, salah satu tujuan nasional Indonesia adalah “….ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ….” Oleh sebab itu Indonesia sudah seharusnya aktif berperan dalam upaya upaya yang dilakukan oleh Perserikatan bangsa bangsa dalam mencapai ketertiban dunia dan perdamaian. Sehingga tugas yang harus diambil oleh Indonesia adalah menghilangkan faktor-faktor yang dapat memancing terjadinya konflik antar negara dan mencegah terjadinya perang antar negara, antar kawasan dan menjaga kesimbangan semua faktor untuk dapat mewujudkan perdamaian dunia.



Peran Indonesia dalam pembentukan komunitas ASEAN, sebagai sebuah rencana jangka panjang, yang terdiri dari tiga pilar yaitu ASEAN Ecomoc Community, ASEAN Security Community dan ASEAN Socio-cultursl Community. Ketiga pilar tersebut saling memperkuat untuk mencapai tujuan perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas serta kesejahteraan dikawasan. Peran ini menunjukkan aktifitas diplomasi dalam lingkungan kawasan, namun juga berpengaruh secara global, karena kekuatan ASEAN, telah menjadi perhitungan oleh kawasan lain yang berada di semua benua. Keterlibatan, partisipasi Indonesia di ASEAN merupakan sebuah peran yang dilakukan untuk membentuk sebuah identitas kawasan yang dapat meningkatkan partisipasi, solidaritas dan kebersamaan dalam menghadapi permasalahan yang timbul dikawasan. Selain itu, Indonesia juga telah berupaya mengajak dunia melalui para dutanya, yang dalam hal ini telah disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menghimbau agar setiap negara dapat menerapkan kesadaran baru dan tanggungjawab bersama, demi kepentingan dunia dan umat manusia. Mengajak untuk dalam menerapkan gaya hidup untuk selalu diarahkan untuk penyelamatan bumi; Penguasaan tehnologi dan penggunaanya harus diarahkan untuk mengatasi permasalahan global yaitu masalah Food, Energy and Water, karena tiga kebutuhan ini akan mengundang terjadinya konflik. Selain itu juga berharap agar antar begara dapat membangun kerjasama kemitraan global yang efektif dengan menjalankan semua kesepakatan kebijakan secara bersama-sama. Presiden juga menyampaikan bahwa dalam mengatasi benturan kepentingan yang berkaitan dengan permasalahan global tersebut, berharap agar dilakukan dengan damai, jangan terlalu cepat menggunakan kekuatan senjata ( Hard Power), karena perang akan menimbulkan kesengsaraan. Harapan lain yang disampaikan adalah untuk membangun peradaban dunia yang baik dan dalam menyelesaikan permasalahan dilakukan secara beradap.
Berkenaan dengan perkembangan politik Internasional, peran Indonesia juga berpengaruh dengan mempelopori terbentuknya ASEAN Regional Forum (ARF), sebuah forum yang melibatkan negara-negara dan kawasan untuk membahas permasalahan keamanan. ASEAN Regional Forum (ARF) merupakan suatu forum yang dibentuk oleh ASEAN pada tahun 1994 sebagai suatu wahana bagi dialog dan konsultasi mengenai hal-hal yang terkait dengan politik dan keamanan di kawasan, serta untuk membahas dan menyamakan pandangan antara negara-negara peserta ARF untuk memperkecil ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan.


ARF merupakan satu-satunya forum di level pemerintahan yang dihadiri oleh seluruh negara-negara kuat di kawasan Asia Pasifik dan kawasan lain seperti Amerika Serikat, Republik Rakyat China, Jepang, Rusia dan Uni Eropa (UE). ARF menyepakati bahwa konsep keamanan menyeluruh (comprehensive security) tidak hanya mencakup aspek-aspek militer dan isu keamanan tradisional namun juga terkait dengan aspek politik, ekonomi, sosial dan isu lainnya seperti isu keamanan nontradisional.
Sampai dengan Pertemuan Tingkat Menteri Ke-12 ARF, peserta ARF berjumlah 25 negara yang terdiri atas seluruh negara anggota ASEAN (Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina), 10 negara Mitra Wicara ASEAN (Amerika Serikat, Kanada, China, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru, dan Uni Eropa) serta negara di kawasan seperti Papua Nugini, Mongolia, Korea Utara, Pakistan dan Timor-Leste.

Sebagai perangkat yang dimanfaatkan ASEAN dalam menciptakan dan menjaga stabilitas serta keharmonisan kawasan, ARF menetapkan dua tujuan utama yaitu : mengembangkan dialog dan konsultasi konstruktif mengenai isu-isu politik dan keamanan yang menjadi kepentingan dan perhatian bersama, dan memberikan kontribusi positif dalam berbagai upaya untuk mewujudkan kepercayaan diri dan upaya pencegahan melalui diplomasi di kawasan Asia Pasifik.


Upaya upaya Indonesia sebagai negara bangsa maupun sebagai bagian dari ASEAN, telah menunjukkan bahwa partisipasi Indonesia untuk menggapai tujuan nasionalnya yang berkaitan dengan ikut melaksanakan perdamaian dunia telah diselenggarakan, sebagai sikap untuk mengimplementasikan politik luar negeri yang “bebas aktif” kepentingan Indonesia dalam penggiatan ARF adalah untuk : mengembangkan penampilan internasional melalui peran dan kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN sebagai penggerak utama dalam ARF; Bersama ASEAN, menetapkan agenda dialog dan konsultasi ARF untuk menjaga dan mengembangkan kepentingan nasionalnya dalam berbagai isu penting politik dan keamanan; menggalang dukungan dari negara peserta ARF bagi keutuhan dan kedaulatan teritorial Indonesia; mendorong komitmen kawasan untuk mengembangkan kerjasama di berbagai isu yang menjadi perhatian bersama antara lain perang melawan terorisme dan kejahatan lintas negara lainnya dan memajukan budaya damai, toleransi, dan dialog antara negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Tidak ada komentar: