Minggu, 03 November 2013

MENGALAHKAN MALARIA



MENGALAHKAN MALARIA

Tahun 1986, wilayah Timor Timur (Timtim) masih menjadi bagian dari Indonesia dan pada era itu dibanggakan sebagai propinsi termuda di Indonesia sebagai propinsi ke 27.   Meskipun sudah menjadi bagian dari Indonesia, belum semua rakyat Timtim menerima integrasi tersebut dan mereka yang berada pada sisi ini masih melakukan perlawanan untuk mencapai cita-cita mereka yaitu merdeka, menjadi negara berdaulat.   Indonesia pada zaman itu mengapresiasi sebagian rakyat Timti yang ingin bergabung dan menjadi bagian dari Indonesia.   Setelah berselang lebih dari 23 tahun kemudian, baru disadari bahwa Indonesia menjadi wilayah “TERABELICA” sebagai sebuah wilayah layaknya sebuah peran tetapi pada area “non violent conflict” antara pengaruh Demokrasi dan Komunis.
Naskah ini tidak diarahkan untuk fokus kepada permasalahan masa lalu, tetapi dari keterlibatan langsung dengan wilayah Timtim, telah diperoleh sebuah pengetahuan meskipun belum diteliti secara medis, yaitu menghadapi “Malaria” .   Mengingat Malaria sampai saat sekarang masih menjadi ancaman bagi sebagian masyarakat didunia, melalui naskah ini diharapkan dapat memanfaatkan pengetahuan yang telah diuji coba dan menunjukkan hasil yang sangat positif.


Tahun 1985 sampai dengan 1988, keterlibatan dengan timtim secara langsung dan dalam jangka waktu itu setiap tahun pasukan yang melaksanakan tugas operasi memperoleh “cuti” selama 2 minggu, meskipun pada saat cuti itu, prajurit satuan tetap berlatih untuk mempersiapkan ketrampilan dan menambah pengetahuan untuk penugasan tahun berikutnya.   Selama 3 tahun satuan melaksanakan tugas operasi, banyak ekses dan resiko yang timbul, baik yang terjadi didaerah operasi maupun mereka yang berada di home base.   Khusus masalah ini, tidak pernah ada kajian yang dilakukan atau paling tidak yang dipublikasikan demi kepentingan moril pasukan, atau untuk kajian bagi rancangan operasi selanjutnya yang masih sangat mungkin terjadi di Indonesia.

Wilayah Timtim, sebagaimana dikenal oleh banyak tentara yang mengalami penugasan disana, penyakit yang paling menyiksa adalah Malaria.   Untuk menghadapi kemungkinan terjangkitnya malaria terhadap prajurit, maka setiap personelyang akan melaksanakan tugas diwilayah Timtim, 2 minggu paling tidak sebelum diberankatkan, mereka telah mengkonsumsi obat sebagai pencegah malaria dan secara rutin mereka wajib mengkosumsi obat selama di daerah penugasan.   Namun hasilnya tidak menggembirakan, hampir 100 % personel pernah mengalami dijangkiti malaria dan mengalami penderitaan akibat malaria.    

Pada cuti pertama tahun 2006, personel satuan setelah melaksanakan cuti, dilanjutkan dengan program latihan.   Sebagai kewajiban dalam organisasi tentara, apel hari pertama setelah cuti, didapati beberapa personel yang terlambat hadir karena menejemen waktu yang salah, dan mereka dinyatakan bersalah dan harus menerima sanksi.   Teringat sebuah nasehat seseorang tentang malaria, mereka mengatakan “darah yang pahit, tidak akan digigit nyamuk” dan bila ini terjadi maka dapat menghindari malaria.   

Dengan mengingat ini, sebagai pimpinan satuan, ingin melakukan uji coba dengan memberi tindakan kepada personel yang melakukan kesalahan dengan perintah “menelan empedu ayam” dan dilakukan didepan pimpinan satuan.   Tindakan sudah dilaksanakan dan latihan berlanjut, sampai waktu persiapan untuk embargasi dan melanjutkan tugas operasi kembali ke Timtim.   Sampai didaerah yang paling tinggi resiko terhadap malaria dan di pos tersebut terdiri dari 12 orang personel yang menerima tangungjawab untuk melaksanakan pengamanan rute dan pengamanan pemukiman penduduk.   Untuk keberhasilan tugas, mereka   secara rutin melaksanakan patroli meskipun rancangan patroli dikendalikan dengan waktu dan route yang tidak tetap, dengan harapan dapat menciptakan situasi yang tidak terduga dan membatasi ruang gerak para insurjen.   

Setelah penugasan berlangsung lebih dari 4 bulan, secara bergantian personel pos tersebut sudah mulai terjangkit malaria dan secara mengejutkan personel yang “menelan empedu ayam pada sat di home base” me-nyampaikan protes kepada pimpinan satuan, dengan pernyataan “ gara-gara komandan memerintahkan kami menelan empedu ayam, kami tidak bisa istirahat dari patroli, karena kami tidak pernah sakit malaria, sehingga harus menggantikan tugas patroli mereka yang sakit” .    Pernyataan para prajurit ini cukup mengejutkan tetapi juga menyenangkan, karena uji coba dinilai berhasil.     

Setelah penugasan operasi di wilayah Timtim selesai, sebagai bagian dari kesatuan tempur, penugasan diwilayah lain menunggu.   Kesatuan mendapat tugas ke wilayah Irian jaya, setelah beristirahat selama 1 tahun di home base.   Karena pengalaman sebelumnya terkait dengan “malaria”, proyek uji coba akan dilanjutkan, karena pertimbangan bahwa Malaria Irian jaya lebih ganas bila dibandingkan yang ada di Timtim.   

Namun proyek uji coba hanya diterapkan pada diri sendiri, dengan menelan empedu ayam beberapa waktu sebelum embargasi menuju ke daerah operasi dan ternyata “berhasil”, selama didaerah operasi tidak pernah diserang malaria dan hasil test darah memberi bukti bahwa, meskipun berada di daerah operasi Irian dan berada dipusat malaria yaitu di Arso kompleks, diyakini sebagai buah pengaruh dari “empedu ayam”, perlu diinformasikan bahwa pertama kali menginjak Irian, pada tahun 1982 selama 8 bulan, sepanjang penugasan itu, jatuh bangun karena malaria, bahkan salah satu prajurit dalam unit yang sama, menjadi koban dan meninggal didaerah operasi karena malaria; satu orang tidak dapat mengontrol fungsi geraknya, ya karena malaria.   Setelahnya pada penugasan ke 2 tahun 1990-1991 sudah diselamatkan oleh empedu ayam dan tahun 93 – 94 serta tahun 1996-1997, tidak pernah terjangkit malaria, selama berada di wilayah penugasan Irian Jaya dan juga tidak terjadi selama di home base.

Karena keberhasilan ini, kepada beberapa teman dan sahabat yang akan melaksanakan tugas baik ke wilayah Timor maupun ke Irian jaya, baik menjadi anggota organisk atau hanya penugasan, pengalaman “menelan empedu ayam” sebelum berangkat.   Meskipun nasehat yang disampaikan belum tentu dilakukan oleh orang lain dan bilapun mereka melakukan, tidak ada informasi sebagai umpan balik apakah berhasi atau tidak “resep empedu ayam” tersebut.

Mengingat masih banyaknya kasus malaria tidak saja di Indonesia tetapi juga diwilayah lain diseluruh dunia, maka uji coba “ menelan empedu ayam” ini layak dipertimbangkan dan bila perlu diuji secara klinis untuk mengetahui dan bila benar dapat bermanfaat untuk “mengalahkan malaria”     
Semoga bermanfaat ........

Bandung, 02 Nopember 2013
Juanda Sy.,M.Si

Tidak ada komentar: