Jumat, 30 Oktober 2015

strategi dalam perang dan bisnis



MENILAI SITUASI
DALAM STRATEGI PERANG DAN BISNIS

Dalam perencanaan strategis, terdapat 8 faktor utama yang menjadi dasar perencanaan dan bila lebih dalam menelaahnya, 8 unsur tersebut perlu pendalaman yang lebih, karena dalam menganalisa faktor –faktor tersebut  terdapat beberapa pertimbangan dalam penelaahannya yaitu : pertama, penilaian unsur manusia (Sumberdaya manusia, kepemimpinan dan motivasi) dan unsur bukan manusia (organisasi, keunggulan kompetitif , negara /kepemimpinan politik dan lingkkungan baik internal maupun external.  Kedua, faktor yang dapat dikendalikan ( SDM, doktrin dan motivasi) dan faktor yang tidak dapat dikendalikan ( iklim, lapangan, kepemimpinan).   Dengan demikian fakor yang dapat dikendalikan harus dapat dikelola sehingga menjadi kekuatan yang dapat mengurangi pengaruh yang ditimbulkan oleh faktor yang tidak dapat dikendalikan.  Ketiga, adalah kekuatan statis dan dinamis dari 8 faktor perencanaan.  Infrastruktur adalah bersifat statis karena untuk merubahnya perlu waktu cukup lama, demikian juga dengan kepemimpinan, karena kebijakan pimpinan secara politik, sangat sulit dipengaruhi, sehingga perlu penyesuaian.   Adapun iklim, meskipun bersifat satais tetapi berlaku dalam batas yang relatif singkat, sedangkan kekuatan, keunggulan kompetitif, latihan, disiplin SDM dan motivasi bersifat dinamis.   


Pada akhirnya “perang” adalah sesuatu yang perlu dihindari karena berbagai resiko yang dapat ditimbulkannya.   “perang” hanya akan dilakukan bila terpaksa dan hal itupun membutuhkan persyaratan diantaranya bila dilakukan akan memperoleh keunggulan yang dapat dipastikan; Hanya dilakukan bila tidak ada alternatif lain yang dapat dilakukan atau semua jalan sudah tertutup; dan bilapun perang tidak mungkin dimenangkan, tetapi pertahanan sendiri tidak boleh digoyahkan.   
Beberapa filosofi Sun tzu dalam perang dan menejemen (2001,33) pertama, jangan bergerak bila tidak yakin akan memperoleh keunggulan yang pasti, jangan menggunakan kekuatan/pasukan kecuali yakin berhasil dan jangan bertempur bila tidak terpaksa. Kedua, dizaman kuno, para ahli perang membuat dirinya takterkalahkan lebih dulu sebelum mencari peluang untuk mengalahkan musuh. Ketiga, Penguasa tidak boleh memulai perang karena murka.   Seorang panglima tidak boleh bertempur karena benci.   Perang hanya dilakukan untuk kepentingan negara dan harus dihentikan bila merugikan.   Karena kemurkaan dapat dikendalikan menjadi kebahagiaan, dan kebencian menjadi kesenangan.   Negara yang sudah binasa tidak dapat dibangun kembali dan orang mati tidak mungkin dihidupkan kembali.  Keempat, seorang penguasa yang bijak, harus selalu berhati-hati mengenai perang, sementara panglima yang baik harus selalu waspada dalam perang.   Pemikiran inilah yang berguna untuk menjamin keamanan negara dan mempertahankan angkatan bersenjata.
Dalam strategi bisnis, penggambaran dalam menilai situasi untuk memilih perang atau tidak, maka perang atau tidak dengan pesaing dalam pemasaran juga sangat penting untuk mempertimbangkan :

-  Perolehan yang pasti dalam bidang penambahan penjualan, pangsa pasar serta profil yang lebih baik daripada pesaing.

-   Peluang untuk memenangkan persaingan sangat besar.

-  Perang persaingan adalah pilihan terakhir, karena pangsa pasar tidak dapat diperbesar tanpa offensif.

-  Perusahaan telah membangun pertahanan yang kokoh dalam sumberdaya.

Apabila sebuah perusahaan tidak dapat melakukan perang pemasaran dengan pesaing, maka perusahaan wajib mencari jalan lain untuk tetap bersaing, melalui peningkatan mutu produksi, efisiensi kerja, peningkatan mutu pelayanan dan termasuk dalam promosi.   Pada intinya meskipun tidak terjadi perang pemasaran secara langsung, membangun pertahanan untuk tidak kolaps pada saat pesaing menjadi lebih kuat, karena perusahaan telah memiliki pertahanan yang cukup.

Bandung, 30 okt 2015 
for my country

Tidak ada komentar: